Puskesmas Bisa Miliki
SELAMA ini alat deteksi penyakit paru sangat mahal. Namun, Muhammad Rivai mengklaim alatnya lebih murah bila dibandingkan dengan alat yang dimiliki rumah sakit besar yang harganya mencapai Rp 500 juta lebih.
"Alat yang kami temukan ini sangat murah dan dapat diproduksi massal dan bisa dimiliki seluruh puskesmas-puskesmas di Indonesia. Masyarakat dapat dengan mudah mengetahui gejala penyakit paru yang diderita dan sekaligus mengurangi angka kematian akibat sakit paru,"ujar Rivai.
Sebagian besar komponen alat yang ditemukan Rivai bersama para mahasiswanya itu dapat ditemukan di pasaran. Hanya beberapa bagian penting yang harus dibuat sendiri oleh Rivai karena terkait dengan formula susunan kimiawi yang harus terkandung di dalamnya. Di antaranya komponen sensor pembaca gas.
"Komponen yang lain bisa ditemukan di Pasar Genteng Surabaya juga banyak. Tapi, komponen untuk sensor ini yang susahnya minta ampun. Susunan formasi kimianya harus pas agar dapat mendeteksi secara selekfif dan efektif dari penyakit paru yang diderita seseorang," imbuh Rivai.
Kemudahan mendapatkan berbagai komponen tersebut di toko-toko elektronik membuat harga alat yang ditemukan Rivai ini 100 kali lebih murah, yakni Rp 5 juta.
Selain belum pernah masuk formasi alat-alat kedokteran di Indonesia, alat pendeteksi dini penyakit paru itu konon belum digunakan di mancanegara.
"Kalaupun ada, mungkin saat ini sedang kejar-mengejar dengan hasil temuan kami. Artinya peneliti luar negeri juga masih tengah melakukan risetnya. Temuan kami saat ini tinggal menunggu waktu pengujian, terutama tingkat efektifitas dan akurasi kerjanya," kata Rivai.
Rivai berharap pada 2013 alat yang ditemukannya tersebut segera diujicobakan. Dengan demikian, ia dapat segera menyempurnakan setelah mengetahui masih ada kekurangan-kekurangan. Jika sudah disempurnakan, alat tersebut diharapkannya dapat diproduksi dalam skala besar untuk digunakan di puskesmas dan klinik-klinik di seluruh Indonesia. (AB/M-5)