MENCARI ADRENALIN DI ATAS TALI
Mencari adrenalin bisa dilakukan di atas ketinggian, mulai 1 meter hingga tidak terbatas, bahkan di atas air pun bisa.
AREA depan toko Eiger di Jalan Sumatra, Bandung, Jawa Barat, biasa diwarnai aksi muda mudi. Namun, pada Sabtu (16/1), mereka bukan saja mengulur tali di dinding panjat yang memang menjulang di pinggir toko, melainkan juga di sebagian besar tempat parkir.
Sejurus kemudian seorang perempuan muda berusaha meniti tali yang memiliki sekitar 5 meter itu. Tubuhnya oleng ke kanan dan kiri, tapi ia begitu serius mencapai ujung.
Agak jauh di sebelah kirinya, seorang pemuda lincah memantul-mantul di atas tali sepanjang sekitar 12 meter. Bukan cuma memantul sambil berdiri, ia lincah berganti dari rebah ke posisi duduk atau sambil menekuk kaki ke belakang.
"Kalau mau gabung silakan saja," ujar seorang pemuda yang sebelumnya tampak serius mengamati teman-temannya beraksi kepada Media Indonesia, Fikri Dhiyaul Haq, demikian namanya, menjelaskan aksi yang sedang dilakukan ialah trickline yang merupakan salah satu cabang dari slackline.
Olahraga itu dimulai pemanjat tebing Amerika Serikat, Adam Grosowsky, pada 1976. Pada dasarnya olahraga itu ialah aksi keseimbangan di atas tali yang diregangkan di antara dua titik.
Kini olahraga yang pertama kali terinspirasi dari aksi handstand seorang pesirkus di atas kabel itu telah berkembang dalam tujuh jenis, Trickline, seperti yang dilakukan Fikri pada hari itu, ialah slackline di ketinggian 1 meter sampai 1,2 meter dan menonjolkan kreativitas para pelakunya untuk menyeimbangkan dan memantulkan tubuh dengan berbagai posisi. Untuk posisi statis (diam), salah satu yang tampak banyak dipelajari sore itu ialah posisi side Buddha yang dilakukan dengan duduk bersila di atas tali.
Jadi lebih ke freestyle. Tapi untuk bisa mantul-mantul dan beragam trik itu awalnya latihan jalan dulu," jelas Gingin Ginanjar. Pria yang datang belakangan dengan mengendarai sepeda itu merupakan salah satu pionir slackline di Indonesia. karena lama menekuni panjat tebing mulai sekitar 2011, ia dan beberapa teman menyebarkan kegemaran ber-slackline lewat komunitas Pusing Panda.
Jenis slackline lain yang juga ditekuni Gingin ialah highline (ketinggian 10 meter ke atas) waterline (di atas air), rodeoline (tali dibuat kendur), dan longline (panjang tali 30 meter ke atas). sementara itu, jika melihat situs-situs penggemar slackline, terdapat satu lagi jenis yang juga populer yakni windline (dalam kondisi angin kencang).
Di ats gunung
'"Awalnya penasaran karena melihat kayaknya mudah, pas dicoba enggak ada mudah-mudahnya," aku Gingin soal ketertarikan awal pada slackline. Butuh waktu sekitar seminggu bagi pria berusia 31 tahun itu agar bisa berjalan di atas tali trickline yang memiliki lebar 2 inci.
Berjalan merupakan tahap pertama bagi orang untuk bisa melakoni berbagai jenis slackline. Tidak berhenti sampai trik memantul-mantul, Gingin pun melakoni slackline yang memang sesuai dengan hobi sejatinya, yakni di atas ketinggian Ia mengakui pernah melakoni highline di atas ketinggian 80 meter di Gunung Hawu, Padalarang. Tantangan makin berat karena tali untuk highline hanya memiliki lebar 1 inchi.
"Kita pakai harness (tali pengaman) dan punya lisensi soal ketinggian dari panjat tebing," tutur Gingin soal kelengkapan beraksi.
Bersama rekannya Cheppy Chair Bekajaya, pada 8 Januari lalu, ia berhasil meniti tali di ketinggian 60 meter di atas dua menara di Sentra Timur Superblok, Jakarta Timur. Aksi yang dibuat dengan dukungan media Kompas itu dikaitkan juga menjadi aksi pertama manusia meniti tali di atas gedung bertingkat di Indonesia.
Bagi Cheppy sesungguhnya ketinggian itu tidak terlalu mencengangkan. Pada 2013, pria yang sebaya dengan Gingin itu meniti tali di antara dua jembatan kereta api setinggi 110 meter di Cisomang, Purwakarta.
"Yang satu rel kereta mati, yang satu lagi aktif jadi sebenarnya memang rada ilegal," ucapnya sambil tertawa.
Namun, kepuasan mulus meniti tali sepanjang 20 meter tampaknya menjadi bayaran yang setimpal baginya. Terbukti ia terus haus memacu adrenalin di tempat-tempat tinggi lainnya.
Namun, menurut Gingin slackline sesungguhnya tidak hanya soal adrenalin atau pamer ketangkasan. Pria yang bekerja di bidang terkait tali-temali untuk ketinggian itu mengaku fokusnya jadi terlatih.
"Jangan untuk (melakukan) panjat tebing, fokus di pekerjaan juga jadi lebih baik. Untuk pekerjaan yang membutuhkan tali tinggi, (saya) jadi bisa lebih tahan lama fokus," tambahnya.
Di sisi lain, olahraga itu sesungguhnya juga tidak dapat dikatakan murah. Meski dapat beraksi dengan pakaian dan sepatu biasa (sol harus yang datar dan tidak bergerigi), tali yang digunakan tidak sembarang.
Tali slackline dengan panjang 30 meter berharga sekitar Rp 2,9 juta. Belum lagi kelengkapan tali pengaman jika ingin melakukan highline.
Sebab itu, penggemar olahraga itu umunya bergabung dalam komunitas, sehingga dapat mengumpulkan sumber daya secara bersama. Anda yang ingin menjajal silakan datang ke lokasi itu pada Jumat atau Sabtu atau bisa pula menghubungi Pushing Panda melalui media sosial mereka. (M-5)
miweekend@mediaindonesia.com
Sejurus kemudian seorang perempuan muda berusaha meniti tali yang memiliki sekitar 5 meter itu. Tubuhnya oleng ke kanan dan kiri, tapi ia begitu serius mencapai ujung.
Agak jauh di sebelah kirinya, seorang pemuda lincah memantul-mantul di atas tali sepanjang sekitar 12 meter. Bukan cuma memantul sambil berdiri, ia lincah berganti dari rebah ke posisi duduk atau sambil menekuk kaki ke belakang.
"Kalau mau gabung silakan saja," ujar seorang pemuda yang sebelumnya tampak serius mengamati teman-temannya beraksi kepada Media Indonesia, Fikri Dhiyaul Haq, demikian namanya, menjelaskan aksi yang sedang dilakukan ialah trickline yang merupakan salah satu cabang dari slackline.
Olahraga itu dimulai pemanjat tebing Amerika Serikat, Adam Grosowsky, pada 1976. Pada dasarnya olahraga itu ialah aksi keseimbangan di atas tali yang diregangkan di antara dua titik.
Kini olahraga yang pertama kali terinspirasi dari aksi handstand seorang pesirkus di atas kabel itu telah berkembang dalam tujuh jenis, Trickline, seperti yang dilakukan Fikri pada hari itu, ialah slackline di ketinggian 1 meter sampai 1,2 meter dan menonjolkan kreativitas para pelakunya untuk menyeimbangkan dan memantulkan tubuh dengan berbagai posisi. Untuk posisi statis (diam), salah satu yang tampak banyak dipelajari sore itu ialah posisi side Buddha yang dilakukan dengan duduk bersila di atas tali.
Jadi lebih ke freestyle. Tapi untuk bisa mantul-mantul dan beragam trik itu awalnya latihan jalan dulu," jelas Gingin Ginanjar. Pria yang datang belakangan dengan mengendarai sepeda itu merupakan salah satu pionir slackline di Indonesia. karena lama menekuni panjat tebing mulai sekitar 2011, ia dan beberapa teman menyebarkan kegemaran ber-slackline lewat komunitas Pusing Panda.
Jenis slackline lain yang juga ditekuni Gingin ialah highline (ketinggian 10 meter ke atas) waterline (di atas air), rodeoline (tali dibuat kendur), dan longline (panjang tali 30 meter ke atas). sementara itu, jika melihat situs-situs penggemar slackline, terdapat satu lagi jenis yang juga populer yakni windline (dalam kondisi angin kencang).
Di ats gunung
'"Awalnya penasaran karena melihat kayaknya mudah, pas dicoba enggak ada mudah-mudahnya," aku Gingin soal ketertarikan awal pada slackline. Butuh waktu sekitar seminggu bagi pria berusia 31 tahun itu agar bisa berjalan di atas tali trickline yang memiliki lebar 2 inci.
Berjalan merupakan tahap pertama bagi orang untuk bisa melakoni berbagai jenis slackline. Tidak berhenti sampai trik memantul-mantul, Gingin pun melakoni slackline yang memang sesuai dengan hobi sejatinya, yakni di atas ketinggian Ia mengakui pernah melakoni highline di atas ketinggian 80 meter di Gunung Hawu, Padalarang. Tantangan makin berat karena tali untuk highline hanya memiliki lebar 1 inchi.
"Kita pakai harness (tali pengaman) dan punya lisensi soal ketinggian dari panjat tebing," tutur Gingin soal kelengkapan beraksi.
Bersama rekannya Cheppy Chair Bekajaya, pada 8 Januari lalu, ia berhasil meniti tali di ketinggian 60 meter di atas dua menara di Sentra Timur Superblok, Jakarta Timur. Aksi yang dibuat dengan dukungan media Kompas itu dikaitkan juga menjadi aksi pertama manusia meniti tali di atas gedung bertingkat di Indonesia.
Bagi Cheppy sesungguhnya ketinggian itu tidak terlalu mencengangkan. Pada 2013, pria yang sebaya dengan Gingin itu meniti tali di antara dua jembatan kereta api setinggi 110 meter di Cisomang, Purwakarta.
"Yang satu rel kereta mati, yang satu lagi aktif jadi sebenarnya memang rada ilegal," ucapnya sambil tertawa.
Namun, kepuasan mulus meniti tali sepanjang 20 meter tampaknya menjadi bayaran yang setimpal baginya. Terbukti ia terus haus memacu adrenalin di tempat-tempat tinggi lainnya.
Namun, menurut Gingin slackline sesungguhnya tidak hanya soal adrenalin atau pamer ketangkasan. Pria yang bekerja di bidang terkait tali-temali untuk ketinggian itu mengaku fokusnya jadi terlatih.
"Jangan untuk (melakukan) panjat tebing, fokus di pekerjaan juga jadi lebih baik. Untuk pekerjaan yang membutuhkan tali tinggi, (saya) jadi bisa lebih tahan lama fokus," tambahnya.
Di sisi lain, olahraga itu sesungguhnya juga tidak dapat dikatakan murah. Meski dapat beraksi dengan pakaian dan sepatu biasa (sol harus yang datar dan tidak bergerigi), tali yang digunakan tidak sembarang.
Tali slackline dengan panjang 30 meter berharga sekitar Rp 2,9 juta. Belum lagi kelengkapan tali pengaman jika ingin melakukan highline.
Sebab itu, penggemar olahraga itu umunya bergabung dalam komunitas, sehingga dapat mengumpulkan sumber daya secara bersama. Anda yang ingin menjajal silakan datang ke lokasi itu pada Jumat atau Sabtu atau bisa pula menghubungi Pushing Panda melalui media sosial mereka. (M-5)
miweekend@mediaindonesia.com
