"Spesialis" Korban Narkoba
Aisah Dahlan (44) tak menyangka, niat menemani sang adik yang jadi pecandu narkotika berobat ke Malaysia bakal mengubah jalan hidupnya. Gara-gara itulah, perempuan berdarah Bugis tersebut menanggalkan cita-citanya menjadi dokter spesialis anak.
Ia kemudian memilih menolong pecandu narkotika dan keluarganya yang stres menghadapi situasi yang runyam. Jadilah Aisah sebagai dokter "spesialis bagi korban narkotika keluarganya".
Ketika di Malaysia, Aisah melihat cara rumah sakit di negeri jiran itu mengobati pecandu narkotika. "Waktu itu saya belum tahu cara menangani pecandu. Karena harus bolak-balik Ke Malaysia, suami (dokter Priyanto Sismadi) mendorong saya untuk sekalian kursus drug abuse counselor," kata Aisah mengenang peristiwa sekitar 26 tahun lalu itu.
Berbekal pengetahuan tersebut, dia dan suami mendirikan Unit Narkoba di Rumah Saikt Harum, Kalimalang, Jakarta Timur, Aisah memimpin unit tersebut.
Kala itu, jumlah pecandu narkotika relatif banyak, sedangkan jumlah rumah sakit yang bisa merawat mereka bisa dikatakan minim. Banyak keluarga membawa anggota keluarganya yang merupakan korban narkotika ke rumah sakit itu.
Namun, pecandu tak hanya butuh dibersihkan dari narkotika yang menggerogoti tubuh dan jiwanya. Ada hal lain yang diperlukan supaya setelah "bersih", korban tak ingin kembali mengonsumsi narkotika.
Tanpa baju putih
Aisah mencari tahu apa yang harus dia lakukan terhadap pecandu agar mereka benar-benar bebas dari cengkeraman narkotika. Demi mengetahui kebutuhan mereka, Aisah yang nyaris tak pernah memakai "baju putih" sebagai dokter itu sering mengajak pasien mengobrol.
"Banyak orang tak tahu kalau saya itu dokter," kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tersebut.
Pergaulannya yang akrab dengan pasien ketergantungan obat dan narkotika membuat Aisah belajar tentang penderitaan pencandu narkotika saat sakau. Begitu pula akibat lebih lanjut dari mengonsumsi obat perusak sistem saraf itu, yang kemudian memunculkan, antara lain, penyakit ginjal, paru-paru, sampai HIV/AIDS.
Suatu ketika ada pencandu tahap pembinaan lanjutan (after care) minta pekerjaan. "Dia sudah lama tak kumat tetapi keluarga belum mau menerima. Dia berusaha mencari pekerjaan, tetapi tak juga dapat," ujar Aisah.
Ia lalu memberi orang itu pekerjaan sebagai pendamping pasien yang sedang berobat di rumah sakit. Sebagai bekas pecandu, mereka tahu benar bagaimana rasanya saat sakau.
"Jadi 'anak-anak' itu bisa sekalian menghibur pasien yang sakau. Mereka bisa bilang, "Tenang bro, gue dulu juga begitu, tetapi sekarang masa itu sudah lewat'," kata Aisah menirukan ucapan bekas pencandu.
Cara itu manjur. Pendampingan dari bekas pencandu membuat pasien bisa melewati masa kesakitannya. Namun, perjalanan hidup bekas pencandu tahap pembinaan lanjutan tak cukup sampai di situ. Mereka butuh bekerja dan berkeluarga. Masalahnya, ketahanan tubuh bekas pencandu tak sekuat orang yang bebas narkotika dan obat berbahaya lainnya.
Sahabat Rekan Sebaya
Salah satu jalan keluarnya, Aisah dan suami bekerja sama dengan Rumah Sakit Bhayangkara Sespimma Polri, Ciputat, tempat Aisah bekerja. Dibentuklah Yayasan Sahabat Rekan Sebaya (SRS) tahun 1998. SRS mewadahi bekas pecandu agar bisa saling membantu serta mengembangkan bakat dan minat masing-masing.
Ia meminjam rumah adiknya di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, sebagai markas SRS. Semua kegiatan dipusatkan di rumah ini, bangunan khas Bugis yang terbuat dari kayu. Di sini Aisah membuat kegiatan perbengkelan dan musik.
"Keberadaan komunitas sebagai wadah mantan pencandu untuk berkomunikasi amat penting. Itu menjadi terapi dan pembinaan bagi mereka sehingga tak berpikir tentang narkotika," katanya.
Anggota komunitas pun menyukai kegiatan SRS. Bermusik dan perbengkelan yang semula sekadar untuk menyalurkan bakat lalu menjadi ladang mereka untuk mendapatkan uang. Ini terutama bagi mereka yang tak bisa bekerja di tempat lain.
Dari pengamatannya terhadap perkembangan "anak-anaknya" itu, Aisah melihat bidang lain yang juga mereka sukai, seperti membuat film, berteater, seminar serta pelatihan, usaha binatu, dan servis interior mobil. Ia berusaha menyediakan fasilitas kegiatan yang mereka inginkan.
Rumah Bugis tak hanya menjadi tempat berkarya mereka, tetapi juga menampung pencandu yang ingin berhenti dari kebiasaan buruknya. Aisah dan keluarga membuka pintu bagi mereka yang ingin melakukan detoksifikasi di rumah itu karena tak semua pasien mampu membayar biaya berobat di rumah sakit.
Tak terhitung pencandu yang merasakan kehangatan di SRS. "Susah menghitung jumlahnya karena mereka datang dan pergi. Ada yang meninggal akibat narkotika, ada juga yang mampu mandiri," ujar Aisah yang kerap berceramah tentang bahaya narkotika ke sejumlah kalangan.
Di tengah kesibukan itu, ia berupaya meluangkan waktu bagi suami dan kelima anaknya, yakni Lanang, Priyo, Kakung, Jaler, dan Ragil. Aisah masih ingin menulis buku tentang pengalaman dan pengetahuannya agar semakin banyak orang paham bahaya narkotika.
Soelastri Soekirno