Pengalaman Operasi Usus Buntu

Pertanyaan M di J,
Saya mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Saya sendiri di Jakarta karena orangtua  tinggal di luar Jawa. Sebulan yang lalu, saya mengalami nyeri perut yang berat di daerah ulu hati. Saya berkonsultasi ke dokter dan dinyatakan sakit maag sehingga diberi obat maag. Obat telah saya minum dua hari, tetapi tidak membaik bahkan nyeri semakin hebat dan disertai demam tinggi. Saya mulai khawatir karena setahu saya, biasanya sakit maag timbul tanpa ada gejala demam.

Meski tengah malam, saya ke rumah sakit dan diterima di unit gawat darurat. Dokter yang memeriksa mengatakan, saya menderita infeksi selaput pembungkus usus (peritonitis) akut dan memerlukan konsultasi segera ke dokter bedah. Dokter bedah mengatakan bahwa saya memang harus segera dioperasi dan dia justru khawatir saya menderita usus buntu yang telah pecah.

Saya sungguh terkejut karena diagnosis dokter berbeda-beda. Saya menelepon orangtua untuk meminta persetujuan operasi. Syukurlah, operasi berjalan lancar. Saya harus puasa dan kemudian dibolehkan makan melalui sebuah saluran dari hidung ke perut. Saya juga mengalami infeksi dan perlu terapi antibiotik yang cukup mahal. Saya dirawat di rumah sakit sekitar sepuluh hari sebelum boleh berobat jalan. 

Setahu saya, penyakit usus buntu mestinya diagnosisnya tidak sulit. Saya heran kenapa pada kasus saya, gejala pertama tidak jelas, seperti usus buntu tetapi lebih menyerupai gejala maag. Memang nyeri yang saya rasakan terutama di ulu hati dan bukan di perut kanan bawah.

Pertanyan saya, apakah gejala tersebut menjadi tidak jelas karena usus buntu saya, menurut dokter, berada di belakang usus besar. Sekarang saya sudah pulih dan kuliah kembali. Pengalaman ini saya sampaikan kepada dokter agar kita semua waspada karena gejala usus buntu tidak selalu khas dan jangan beranggapan nyeri perut itu semua karena sakit maag. Bagaimana komentar dokter?

Jawaban DR Samsuridjal Djauzi,
Memang gejala penyakit usus buntu tidak selalu khas. Gejala usus buntu akut yang khas biasanya berupa nyeri di perut kanan bawah disertai demam  yang cukup tinggi. Jika dilakukan penekanan pada perut kanan bawah, timbul rasa nyeri. Bahkan, rasa nyeri lebih nyata jika tekanan dilepaskan. Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan dengan menekuk kaki penderita, dan nyeri di perut kanan bawah juga bisa timbul. Demikian pula, jika dilakukan colok dubur, nyeri akan timbul pada daerah yang berdekatan dengan usus buntu yang terinfeksi. Pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan laboratorium dan USG  atau CT Scan, akan dapat membantu. Juga dapat dilakukan appendicogram dengan cara memasukkan zat kontras ke usus, dan usus buntu yang meradang biasanya tidak akan terisi zat kontras.   

Sebagian kecil usus buntu tidak menunjukkan gejala seperti tadi. Salah satu penyebab memang karena lokasi usus buntu yang terinfeksi tersebut berada di belakang usus besar sehingga penekanan pada perut kanan bawah tidak terlalu nyeri.

Jika diketahui secara dini, operasi usus buntu merupakan operasi yang keberhasilannya tinggi. Namun, jika terjadi keterlambatan, dapat terjadi komplikasi. Komplikasi yang berat dapat berupa perforasi (pecah) usus buntu. 

Jika terjadi komplikasi, operasi menjadi lebih rumit dan risiko infeksi besar sehingga memang perlu terapi antibiotik yang kuat. Bahkan, jika infeksi sudah melibatkan usus besar, mungkin diperlukan pemotongan usus besar. Operasi menjadi operasi besar sehingga risiko operasi juga meningkat.

Pemeriksaan penunjang, baik pemeriksaan laboratorium maupun USG, dapat membantu. Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan peningkatan jumlah sel darah putih sebagai tanda adanya infeksi akut.

Operasi
Operasi usus buntu dapat dilakukan secara terbuka, tetapi sekarang lebih disukai operasi dengan cara laparoskopi. Pada operasi laparoskopi, luka sayatan lebih kecil.

Bagaimana jika pasien menolak operasi? Sebagian pasien mungkin takut menjalani operasi dan ingin memilih cara pengobatan lain, misalnya hanya dengan pemberian antibiotik. Sudah tentu, pendapat pasien harus diperhatikan, tetapi hendaknya pasien dan keluarga perlu memahami operasi adalah terapi pilihan pada infeksi akut usus buntu. Apabila dilakukan pemberian antibiotik, mungkin dapat menenangkan infeksi, tetapi kemungkinan terjadinya berbagai komplikasi perlu dipertimbangkan.

Penyebab apendisits akut belum jelas benar. Para ahli memperkirakan, infeksi akut terjadi karena adanya sumbatan di lumen (saluran) apendik. Biasanya sumbatan itu dapat disebabkan hiperplasia (peningkatan) jumlah jaringan limfoid, bahkan juga dapat terjadi karena tinja yang mengeras, benda asing, atau pernah terjadi sumbatan karena cacing.

Pengalaman Anda menarik untuk disimak dan diambil hikmahnya. Pada kasus Anda, gejala infeksi usus buntu tidak nyata pada tahap pertama, tetapi menjadi gejala berat dalam perjalanan penyakitnya.

Karena sudah terjadi komplikasi, masa perawatan di rumah sakit menjadi lama, perlu antibiotik yang kuat dalam waktu yang cukup lama. Sudah tentu, akibatnya biaya perawatan juga menjadi jauh lebih mahal.

Jadi, apabila terjadi apendisitis, sebaiknya nasihat dokter untuk menjalani operasi perlu dilaksanakan segera. Keterlambatan operasi pada apendisitis dapat meningkatkan risiko komplikasi, mempengaruhi operasi menjadi lebih rumit, dan lama perawatan di rumah sakit menjadi panjang.  

  

Postingan populer dari blog ini

Aspirin Ampuh Atasi Serangan Jantung

Pendidikan Tinggi dan Gangguan Otak

Kanker Prostat Bahaya Utama Lansia Pria