Gairah Setelah Lembur

Semangat seksual orang yang bekerja di atas 60 per jam per minggu malah menggebu. Tapi ini dianggap kontroversial.

DAVID Murphy tergolong pria gila kerja. Setiap hari, pegawai sebuah perusahaan konsultan sumber daya manusia yang mengurusi seleksi calon tenaga kerja di Edinburgh, Inggris, itu bekerja mulai dari pukul 08.00 hingga 19.00. Sepulang dari kantor, pria berusia 27 tahun itu kerap kali masih menyelesaikan pekerjaan kantornya di rumah hingga larut malam. Semua itu dilakukannya mulai Senin sampai Jumat setiap pekan. 

Toh, Murphy tak pernah kelelahan, apalagi sampai mengabaikan aktivitas seksualnya. Setiap Jumat dan Sabtu malam, pria supersibuk ini selalu meluangkan waktu dengan pasangannya. "Bahkan setiap Ahad, seluruh waktu saya habiskan di tempat tidur," ujar Murphy. Justine Fletscher, pasangan hidup Murphy, tak merasakan gangguan kala melakukan hubungan intim. Fletscher masih menganggap suaminya sangat fit dan menggairahkan.
Murphy merupakan salah seorang yang masih mampu mengatur irama hubungan seksual di tengah lamanya jam kerja. Dan ternyata, banyak orang gila kerja yang mempunyai ketangguhan seperti Murphy. Ini dapat dilihat dari jajak pendapat tim Survei Sosial Universitas Chicago terhadap 10.000 warga Amerika Serikat. Seperti dikutip Harian The Washington Post, dua pekan silam, tim pemimpin Profesor John Student yang melakukan studi sejak 1989 itu menemukan; mereka yang  bekerja lebih dari 15 jam per hari atau di atas 60 jam per minggu, cenderung mempunyai gairah seksual 10% lebih hebat ketimbang mereka yang bekerja di bawah angka itu.

Para pecandu kerja di atas 60 jam sepekan, baik pria maupun wanita, mempunyai aktivitas seksual 65 kali setahun. Ini berarti, mereka berhubungan seks hampir 1,3 kali sepekan. Bandingkan dengan pria yang bekerja di bawah 60 jam per pekan, misalnya, yang berhubungan intim rata-rata sekitar 57 kali setahun atau 1,1 kali sepekan. Khususnya untuk pria, angka hasil penelitian itu lebih mencengangkan. Laki-laki yang bekerja 60 jam ke atas per minggu ternyata malah mampu berhubungan seks 82 kali setahun. "Ini bisa terjadi karena orang-orang sibuk masih punya energi yang tersisa cukup banyak di malam hari," ujar Student.

Studi tersebut tentu sangat mengagetkan banyak pihak. Karena, biasanya, para pekerja keras (workaholics) sudah loyo sepulang kerja dan tak tertarik untuk berhubungan intim dengan pasangannya. Kalaupun mau, mereka biasanya tak berpotensi alias tak bisa memuaskan pasangan tidurnya, karena hubungan seks bakal menguras tenaga. Karena itu, seksolog kondang Naek L. Tobing menilai, hasil studi Universitas Chicago tersebut berlawanan dengan keyakinannya selama ini. "Di mana pun, faktor utama seks itu tenaga," ujar Naek. "Kalaupun ada, sifatnya hanya kasuistis," katanya menambahkan. Menurut Naek, 10 jam per hari adalah batas maksimal orang bekerja agar bisa mempertahankan energi dalam berhubungan intim. 

Tapi Profesor Cary Cooper, ahli tentang stres pada Lembaga Sains dan Teknologi Universitas Manchester, Inggris, tak terkejut dengan temuan Universitas Chicago itu. Menurut Cooper, kemampuan pekerja keras untuk melakukan  hubungan seks lebih terkait dengan volume hormon adrenalin. Hormon itu diproduksi kelenjar adrenalin yang berperan memacu jantung dan memperlebar saluran pernapasan. Volume adrenalin umumnya bertambah pada saat bekerja keras. " Karena sudah terbiasa, para pekerja keras mencari keisengan lain untuk menyeimbangkan semangat kerja, sepulang dari kantor," ujar Cooper. Mereka biasanya mengisi kesibukannya dengan bermain seks atau berolahraga.

Sementara itu, Dokter Robert Lefever, Direktur Promis Recovery Centre, yang berbasis di Kent, Kensington, London, tak sepakat dengan dalih Cooper dalam soal keterkaitan aktivitas kerja dan seks dengan volume adrenalin. Lefever mengungkapkan bahwa volume hormon adrenalin tak selalu meningkat pada pekerja. Volume adrenalin bisa bertambah di kala luang. "Hormon itu jauh dari perannya mendorong seseorang untuk melakukan hubungan seksual, melainkan lebih cenderung membuat orang tertidur," ujar Lefever.

Lama bekerja bukan kualifikasi untuk menggambarkan kualitas seks seseorang,  melainkan antusiasme dalam memandang kehidupan, termasuk pekerjaannya. Para pecandu kerja memiliki ketahanan fisik yang lebih kuat dan bisa menikmati pekerjaan. Menurut Lefever, menikmati pekerjaan berbeda dengan pekerja yang merasa dibebani dengan banyak pekerjaan. Mereka yang terkena stres cenderung kurang tertarik untuk bermain cinta.

Dokter Wimpie Pangkahila, seksolog alumnus Universitas Washington, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa fungsi seksual sangat dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain kesehatan tubuh dan ketenangan batin, sedangkan faktor eksternal berupa tekanan pekerjaan. "Orang yang lelah secara fisik, tetapi secara psikis normal, tetap mempunyai gairah seksual yang tinggi, " ujar Wimpie. Apalagi bagi orang Amerika Serikat yang secara fisik lebih kuat ketimbang orang Indonesia. Jadi, kalau pekerjaan itu menyenangkan, jangan ragu-ragu berhubungan seks sepulang dari kerja. Meskipun pekerjaan itu menyita waktu istirahat malam.

AK, Hidayat Tantan, dan I Made Suarjana (Denpasar)      

Postingan populer dari blog ini

Aspirin Ampuh Atasi Serangan Jantung

Pendidikan Tinggi dan Gangguan Otak

Kanker Prostat Bahaya Utama Lansia Pria