Hepatitis C, Berpeluang Menjadi Kronik
JAKARTA (Media): Penyakit hepatitis C memiliki peluang sangat besar menjadi kronik akibat kelihaian virusnya. Maka, perlu pengobatan yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh atau dengan memblok virusnya.
Hal tersebut ditegaskan dr David Handojo Muljono di Jakarta, Sabtu (7/2), di sela-sela simposium. Penanganan Optimal bidang Gastroenterohepatologi: Suatu Tantangan dalam krisis global yang digelar oleh Rumah Sakit St Carolus untuk memperingati HUT ke-85.
Kepada media, ia menuturkan bahwa sebagian besar atau 80% kasus hepatitis C berpotensi menjadi kronik, selain penderitanya yang makin banyak, jadi mesti diwaspadai.
"Memang, dari seluruh Indonesia, datanya belum ada," lanjutnya, yang membahas materi mengenai Aspek Biologi Molekular Hepatitis C sebagai Dasar Strategi Pengobatan.
Tapi diakui, penyakit ini telah menjadi problem kesehatan masyarakat di mana-mana dengan penderita sekitar 175 ribu orang di seluruh dunia dan diperkirakan, angka kesakitan maupun kematiannya melonjok sampai tiga kali lipat pada 2015 mendatang.
David melihat besarnya kemungkinan hepatitis C menjadi kronik semata-mata disebabkan sifat virusnya yang licik sehingga menjengkelkan padahal ukurannya kecil sekali.
Spesialis penyakit dalam itu mengemukakan, virus hepatitis C tergolong famili fleviviridae dan mampu menghindar dari sistem daya tahan tubuh manusia sehingga timbul otoimun.
Ia beralasan, virus tersebut sangat mudah bermutasi dalam waktu cepat. "Artinya, saat tubuh kita baru saja membuat antibodi, virus ini sudah berubah bentuk lagi menjadi yang baru."
Malah dalam mutasi itu, ucapnya, kadang-kadang ada beberapa proteinnya yang mirip dengan organ tubuh hingga sasaran serangan justru mengarah ke bagian badan tadi, bukan ke virus.
Berarti jelas David, jalan satu-satunya untuk pengobatan adalah memanfaatkan stratergi yang sesuai dengan patogenesis penyakit perusak hati ini akibat virus yang berlipat ganda.
Caranya, menurut peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman itu, antara lain dengan mengubah maupun meningkatkan sistem kekebalan tubuh agar mampu memerangi virus hepatitis C.
Metode lainnya, lanjut dia, dengan menghambat virus agar tidak bisa berkembang biak lebih banyak. Kalau pun bertambah, ujar alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di Surabaya tersebut, jumlahnya hanya ratusan, tidak mencapai jutaan.
Pengguna narkoba
Saat ini, hepatitis C banyak menular pada pemakai narkoba. Tidak berbeda dengan penularan HIV/AIDS bagi pengguna narkoba, virus hepatitis C menular lewat jarum suntik yang digunakan secara bersama atau bergantian antarpengguna tersebut.
Upaya pencegahan penularan virus ini, selain dianjurkan tidak menggunakan narkoba, juga dilakukan upaya kampanye agar pengguna tidak memakai jarum suntik bersama atau bergantian.
Bahkan, di beberapa negara seperti di Belanda, untuk menekan laju pertambahan jumlah penderita HIV/AIDS dan hepatitis C lewat jarum suntik, dilakukan program penyediaan jarum suntik bagi pengguna narkoba. Namun, di Indonesia program ini belum dapat dijalankan karena bertentangan dengan undang-undang tentang psikotropika.
Pencernaan berdarah
Sementara itu, empat spesialis penyakit dalam (dr Eddy Setijoso, dr M.Simadibrata, dr. Soemarno, dan dr Daldijono) mengupas materi bertema Penanganan perdarahan saluran cerna bagian atas.
Mereka menganggap gangguan tadi, dengan tanda antara lain muntah darah dan kotoran buang air besar yang hitam, sebagai persoalan kegawatan di bidang penyakit dalam maupun rawat inap darurat.
Keempatnya mengutip data bahwa di Amerika Serikat (AS), terdapat kira-kira 250 ribu kasus ini dalam setahun, sedangkan di Inggris sekitar 30 ribu kasus, dengan angka kematian berkisar 8% hingga 10%.
"Sekitar 80% perdarahan dapat berhenti dengan sendirinya, lalu sisanya membutuhkan intervensi khusus". (Rse/V-2)