Awas! TBC di Sekitar Kita
Saat ini TBC merupakan penyakit penyebab kematian nomor tiga terbesar di Indonesia. Tingginya angka kematian TBC, antara lain karena kurang disiplinnya penderita menjalani pengobatan secara benar dan tuntas. Kebiasaan hidup masyarakat yang tidak sehat, membuat penyebaran TBC makin leluasa.
Seperti dikatakan dokter Ahmad Hudoyo SpP, ahli penyakit paru dari Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, penderita yang tidak taat menjalani pengobatan akan membuat kuman
TBC yang bersarang di dalam tubuhya makin kebal. Ia pun tak lagi mempan pada antibiotik yang selama ini diminum penderita. Bila ini terjadi, penyembuhan penyakit TBC yang diderita makin sulit.
Diperkirakan, setiap hari sekitar 500 orang di tanah air meninggal akibat serangan TBC. Sementara jumlah penderita TBC baru diperkirakan mencapai empat juta orang setiap tahunnya. "Belum lagi sekitar empat juta penderita yang tidak menular atau pembawa kuman TBC lainnya. Maka jumlah penderita itu akan lebih besar lagi," ujarnya.
Sementara jumlah penderita meninggal dalam setahun diperkirakan tiga juta orang. Dari jumlah itu, satu juta di antaranya adalah kaum wanita dan sekitar 100.000 anak-anak. Penyakit ini banyak menyebar di pedesaan berpenduduk miskin dan daerah kumuh perkotaan.
Penyebab penyakit TBC adalah Mycobacterium tuberculosis yang berbentuk batang, bisa bertahan hidup sampai berbulan-bulan di lingkungan kering. Bakteri itu mudah disebarkan lewat batuk, bersin, dan ludah. Seseorang akan terinfeksi bila terjadi kontak atau berada terus menerus di dekat penderita.
Oleh karena itu, penanggulangan masalah utama penyakit TBC adalah dengan menyembuhkan dulu penderita. "Karena seluruh penderita TBC belum sembuh total, maka potensi penyebaran ke orang lain masih tinggi," kata Hudoyo.
Harus berobat secara tuntas
Bila dalam sebuah keluarga ada seseorang terjangkit TBC, maka tak ada jalan bagi si penderita untuk segera berobat. Bila dirawat di rumah, hendaknya disediakan kamar tersendiri dengan segala peralatan atau perlengkapan tersendiri pula. Lantai ruangan harus dibersihkan setiap hari dengan disinfektan yang cukup kuat. Sambil diobati, gizi makanan penderita juga harus baik. Selain itu, penderita juga harus istirat cukup.
Seperti dikatakan dokter Ahmad Hudoyo SpP, ahli penyakit paru dari Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, penderita yang tidak taat menjalani pengobatan akan membuat kuman
TBC yang bersarang di dalam tubuhya makin kebal. Ia pun tak lagi mempan pada antibiotik yang selama ini diminum penderita. Bila ini terjadi, penyembuhan penyakit TBC yang diderita makin sulit.
Diperkirakan, setiap hari sekitar 500 orang di tanah air meninggal akibat serangan TBC. Sementara jumlah penderita TBC baru diperkirakan mencapai empat juta orang setiap tahunnya. "Belum lagi sekitar empat juta penderita yang tidak menular atau pembawa kuman TBC lainnya. Maka jumlah penderita itu akan lebih besar lagi," ujarnya.
Sementara jumlah penderita meninggal dalam setahun diperkirakan tiga juta orang. Dari jumlah itu, satu juta di antaranya adalah kaum wanita dan sekitar 100.000 anak-anak. Penyakit ini banyak menyebar di pedesaan berpenduduk miskin dan daerah kumuh perkotaan.
Penyebab penyakit TBC adalah Mycobacterium tuberculosis yang berbentuk batang, bisa bertahan hidup sampai berbulan-bulan di lingkungan kering. Bakteri itu mudah disebarkan lewat batuk, bersin, dan ludah. Seseorang akan terinfeksi bila terjadi kontak atau berada terus menerus di dekat penderita.
Oleh karena itu, penanggulangan masalah utama penyakit TBC adalah dengan menyembuhkan dulu penderita. "Karena seluruh penderita TBC belum sembuh total, maka potensi penyebaran ke orang lain masih tinggi," kata Hudoyo.
Harus berobat secara tuntas
Bila dalam sebuah keluarga ada seseorang terjangkit TBC, maka tak ada jalan bagi si penderita untuk segera berobat. Bila dirawat di rumah, hendaknya disediakan kamar tersendiri dengan segala peralatan atau perlengkapan tersendiri pula. Lantai ruangan harus dibersihkan setiap hari dengan disinfektan yang cukup kuat. Sambil diobati, gizi makanan penderita juga harus baik. Selain itu, penderita juga harus istirat cukup.
Anak-anak hendaknya dijauhkan dari penderita mengingat daya tahan anak-anak masih lemah sehingga rentan tertular penyakit, apalagi jika sanitasi dan kebersihan lingkungan serta gizi makanan anak kurang memenuhi syarat.
Kuman TBC juga bisa menyerang hewan seperti babi, unggas, dan sapi. Itu mengapa, TBC juga bisa ditularkan melalui susu sapi yang terkontaminasi kuman kalau tidak dipasteurisasi secara seksama. Namun selama daya tahan tubuh kita kuat dan bakteri yang masuk tidak terlalu banyak, maka beberapa bakteri dengan sendirinya akan mati oleh serangan sel darah putih.
Komplikasi yang bisa terjadi pada penderita TBC, lanjut Hudoyo, antara lain pleurel effusion, yakni pengumpulan cairan di antara paru-paru dan dinding rongga dada. Selain itu terjadi pneumothorax atau terdapat udara di antara paru-paru dan dinding rongga dada.
Keadaan akan fatal kalau kerusakan paru-paru sudah sudah luas. TBC dapat menjalar ke organ tubuh lain melalui aliran darah. Terkadang pula infeksi primer TBC tidak terjadi pada paru-paru. Namun justru pada sendi dan tulang, ginjal, usus, rahim, serta getah bening.
Menurut Handoyo, jutaan manusia sebenarnya hidup dengan kuman TBC tanpa harus menjadi sakit. Namun suatu saat bila daya tahan tubuh menurun, kuman penyebab TBC dapat bangkit memperbanyak diri kembali, kemudian menyerang masuk ke bagian lain dari paru-paru.
Strategi DOTS
Dalam usaha menumpas penyakit TBC ini, WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) sebenarnya telah memperkenalkan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). Strategi ini terdiri atas lima komponen utama yakni adanya komitmen politik, tersedianya pelayanan pemeriksaan mikroskopik, terjaminnya penyediaan obat yang merata dan tepat waktu, adanya sistem monitoring yang baik, dan adanya program pengawasan keteraturan minum obat disertai jaminan agar setiap pasien pasti minum obat sampai tuntas. "Penanganan TBC secara langsung, terawasi, cepat, dan tuntas ini sebenarnya ampuh dan efektif untuk menumpas TBC."
Namun, di beberapa negara, termasuk Indonesia, upaya pemberantasan TBC masih berlangsung lamban. Hambatannya antara lain, letak geografis wilayah Indonesia yang terpencar-pencar, kurang penerangan, kurang teraturnya pengobatan, dan lain-lain. Bahkan, di negara-negara berpenghasilan rendah, proyek ini masih tertunda. Padahal pengobatan penyakit TBC tidak boleh setengah-setengah, harus rutin, berturut-turut sampai tuntas dan memakan waktu paling sedikit enam bulan. Jadi sebenarnya, tidak sulit membasmi penyakit TBC asalkan penderita mengikuti semua nasihat yang diberikan dokter. (cho)
Catatan: Gejala TBC: Anda harus waspada jika batuk tak kunjung sembuh lebih dari tiga minggu. Bisa jadi, itu merupakan gejala TBC.
Kuman TBC juga bisa menyerang hewan seperti babi, unggas, dan sapi. Itu mengapa, TBC juga bisa ditularkan melalui susu sapi yang terkontaminasi kuman kalau tidak dipasteurisasi secara seksama. Namun selama daya tahan tubuh kita kuat dan bakteri yang masuk tidak terlalu banyak, maka beberapa bakteri dengan sendirinya akan mati oleh serangan sel darah putih.
Komplikasi yang bisa terjadi pada penderita TBC, lanjut Hudoyo, antara lain pleurel effusion, yakni pengumpulan cairan di antara paru-paru dan dinding rongga dada. Selain itu terjadi pneumothorax atau terdapat udara di antara paru-paru dan dinding rongga dada.
Keadaan akan fatal kalau kerusakan paru-paru sudah sudah luas. TBC dapat menjalar ke organ tubuh lain melalui aliran darah. Terkadang pula infeksi primer TBC tidak terjadi pada paru-paru. Namun justru pada sendi dan tulang, ginjal, usus, rahim, serta getah bening.
Menurut Handoyo, jutaan manusia sebenarnya hidup dengan kuman TBC tanpa harus menjadi sakit. Namun suatu saat bila daya tahan tubuh menurun, kuman penyebab TBC dapat bangkit memperbanyak diri kembali, kemudian menyerang masuk ke bagian lain dari paru-paru.
Strategi DOTS
Dalam usaha menumpas penyakit TBC ini, WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) sebenarnya telah memperkenalkan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). Strategi ini terdiri atas lima komponen utama yakni adanya komitmen politik, tersedianya pelayanan pemeriksaan mikroskopik, terjaminnya penyediaan obat yang merata dan tepat waktu, adanya sistem monitoring yang baik, dan adanya program pengawasan keteraturan minum obat disertai jaminan agar setiap pasien pasti minum obat sampai tuntas. "Penanganan TBC secara langsung, terawasi, cepat, dan tuntas ini sebenarnya ampuh dan efektif untuk menumpas TBC."
Namun, di beberapa negara, termasuk Indonesia, upaya pemberantasan TBC masih berlangsung lamban. Hambatannya antara lain, letak geografis wilayah Indonesia yang terpencar-pencar, kurang penerangan, kurang teraturnya pengobatan, dan lain-lain. Bahkan, di negara-negara berpenghasilan rendah, proyek ini masih tertunda. Padahal pengobatan penyakit TBC tidak boleh setengah-setengah, harus rutin, berturut-turut sampai tuntas dan memakan waktu paling sedikit enam bulan. Jadi sebenarnya, tidak sulit membasmi penyakit TBC asalkan penderita mengikuti semua nasihat yang diberikan dokter. (cho)
Catatan: Gejala TBC: Anda harus waspada jika batuk tak kunjung sembuh lebih dari tiga minggu. Bisa jadi, itu merupakan gejala TBC.