PENGORBANAN PUTRI SETIAWAN DJODY
Tak henti-henti, Setiawan Djody berucap syukur kepada Tuhan karena masih diberikan kesempatan untuk hidup. Di usia senja, Djody menemukan kembali esensi kehidupan. "Wisdom (kebijaksanaan). Itu yang saya temukan saat ini," bilang Djody, tutur katanya semakin sejuk terdengar, meski beberapa kalimat yang meluncur dari bibir pentolan grup rock Kantata Takwa ini sudah mulai tak berurutan. Djody mengaku perjalanan batinnya dimulai ketika ia meregang nyawa di meja operasi dua tahun silam. Apa yang terjadi?
Berbagi hati dengan putri kesayangan
Dua tahun lalu, tepatnya Mei 2009, Djody menjalani operasi transplantasi hati. Cerita berpangkal sepulang dari Yogyakarta. "Di sana saya makan soto jeroan," ungkap Djody. Sepulang dari Yogya, kesehatan Djody menurun drastis. Ia teringat dengan vonis dokter setahun lalu, yang memintanya segera mengganti hati, karena mulai terjadi infeksi.
"Saya diam saja. Semua orang rumah tidak saya beri tahu. Saya ingin melihat sejauh mana saya bisa bertahan dengan kondisi seperti itu," Djody tidak ingin keluarga khawatir. Sakit tak tertahankan memaksa Djody mengaku kepada keluarga, yang segera disambut istri dan anaknya dengan melarikan Djody ke rumah sakit. Sakit livernya sudah sangat parah.
"Ada yang datang kepada saya. Dia bilang saya harus cepat ke Singapura untuk dioperasi. Kalau bisa malam ini berangkat," kenang Djody. Meski orang asing, Djody percaya dengan ucapan pria itu. Tak berpikir lama, Djody minta diterbangkan ke sebuah rumah sakit di Singapura. "Saya harus segera menjalani operasi transplantasi hati. Masalahnya, dokter bilang operasi transplantasi memiliki keberhasilan hingga 99 persen. Namun, setelah operasi belum tentu si tubuh cocok dengan si hati. Alangkah baiknya jika pihak keluarga mendonorkan hati buat saya," urai pemilik gelar MBA lulusan Universitas Wharton 1974 dan S-2 Filasafat dari Universitas California ini.
Mendengar itu, Djody terdiam. Agar peluang sembuh besar, dokter meminta pendonor hati berasal dari garis keturunannya. Di satu sisi, sebagai ayah, ia tak ingin mengambil risiko membahayakan anak-anak dengan operasi ini. "Di titik itu, Jehan, putri saya mengambil tindakan berani. Dia bersedia menjadi donor. Dokter menyetujui. Hati Jehan dibagi dua. Satu untuk saya, satu untuk dia," ungkap Djody yang tak menyangka Jehan berani mempertaruhkan nyawa demi kesembuhannya. "Dia anak yang luar biasa. Sewaktu Jehan lahir, ibunya bilang wajah Jehan mirip saya, kalau sudah besar jadi pemberani. Dan itu terbukti."
Di sinilah Djody mengaku mengalami perjalanan spiritual. Saat ia dalam kondisi tak sadar," diajak mengintip suasana setelah kehidupan manusia. "Saya tidak mau berbicara banyak tentang itu. Saya melihat banyak hal di kehidupan mendatang itu yang kini membuat saya belajar agama kembali," tukas Djody.
Stop nyanyi teriak-teriak dan alkohol
Wejangan dokter pascaoperasi, Djody tidak boleh lagi menenggak minuman keras. "Dulu hobi saya surfing dan panjat tebing. Setiap kali mau surfing saya minum alkohol. Keluar dari laut, saya minum lagi. Mungkin saya disentil Tuhan, dengan begini saya tidak boleh lagi minum alkohol," tutur Djody sambil tersenyum. Pun ketika ia berencana tampil kembali bersama Kantata Takwa 20 Mei mendatang.
"Mengingat kesehatan saya, keluarga mengizinkan saya kembali ke panggung dengan syarat harus check up dulu ke dokter. Saya jalani itu. Pesan dokter, saya tidak boleh nyanyi dengan keras. Saya hanya diperbolehkan teriak sampai 1,5 oktaf saja," bilang Djody. Padahal, lagu-lagu Kantata Takwa khas dengan teriakan Djody dan Iwan Fals. Apalagi, Kantata Takwa berjanji menuntaskan kerinduan masyarakat. "Saya membuat beberapa lagu baru. Ada yang judulnya 'Opera Cinta' itu persembahan saya untuk Jehan." jul