AWAS BUTA MENDADAK
Penyumbatan yang terjadi pada arteri retina sentralis (central retinal artery occlusion=CRAO) bisa menyebabkan buta permanen apabila tidak segera mendapat penanganan dalam tempo 6 jam. Masyarakat umum terkadang menyebut CRAO ini sebagai stroke mata.
Anda memilik kadar kolesterol tinggi? Berhati-hatilah, karena bisa menyebabkan berbagai penyakit berbahaya. Tidak hanya serangan jantung yang mematikan, tetapi juga bisa menyebabkan kebutaan akibat tersumbatnya saluran arteri retina sentralis (CRAO).
Kolesterol normal berdasar pedoman lemak darah menurut US National Cholesterol Education 2001, memiliki batasan di bawah 200 ml/dl. Adapun yang mengkhawatirkan antara 200-239 mg/dl. Sedang yang dikategorikan membahayakan apabila di atas 240 mg/dl.
Dampak kolesterol tinggi akan menyebabkan lemak darah menumpuk pada pembuluh darah dan membuat penyempitan. Bila hal ini terus berlangsung maka menyebabkan pembuluh darah buntu. Kebuntuan pada pembuluh darah di otak akan menyebabkan stroke lumpuh separuh badan, hingga menimbulkan kematian.
Apabila hal itu terjadi pada arteri retina sentralis (CRAO) maka akan menyebabkan buta mendadak, yang tanpa disertai rasa nyeri, karena terjadi gangguan aliran mendadak pada lapisan dalam retina (saraf mata). "Penyebab terbesar merupakan emboli, terutama karena kolesterol. Kejadiannya seperti stroke. Istilah medisnya adalah CRAO," ujar dr. Wieke Ferraniza, Sp. M. M.Kes., ketika ditemui di ruang praktiknya di RSUD Kabupaten Tangerang, Jumat (25/10).
Selain karena kolesterol, CRAO juga bisa disebabkan karena radang arteri, trombus, spasme pembuluh darah akibat terlambatnya pengaliran darah, giant cell arthritis, penyakit kolagen, kelainan hiperkoagulasi hingga penyakit siphilis.
Menurutnya, penyumbatan pada arteri retina pusat akan menyebabkan tidak ada suplai darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke saraf mata. Hal ini menyebabkan gambaran retina yang pucat. Dampaknya, penglihatan gelap atau buta secara mendadak.
Dr. Wieke menambahkan, apabila ada gejala klinis seperti ini, maka penderita secepatnya mendapat pertolongan medis. " Golden Periode-nya sekitar enam jam walaupun kerusakan permanen retina telah terjadi dalam 90 menit setelah terjadi sumbatan. Artinya, apabila tidak mendapat pertolongan medis dalam waktu enam jam, maka penderita bisa mengalami buta permanen," tandasnya.
Satu Mata
CRAO merupakan salah satu penyakit mata yang paling menakutkan karena dampak paling parah dan bisa menyebabkan kebutaan. Pada umumnya, CRAO terjadi di daerah yang disebut lamina kribrosa.
Arteri retina sentralis ini memiliki diameter kecil, sekitar 0,1 mm. Namun memiliki fungsi yang sangat strategis guna menunjang ketajaman penglihatan. Pada umumnya, penyumbatan pada arteri retina sentralis ini terjadi pada satu mata saja, dan ditandai dengan penglihatan turun mendadak atau buta.
Hingga kini, salah satu upaya guna mengobati penyumbatan pada arteri retina sentralis, yakni dengan memperlancar aliran darah. Semakin cepat mendapat perawatan, kemungkinan sembuh juga semakin besar. Meski hingga kini, belum ada pengobatan yang memuaskan terhadap CRAO.
Selain CRAO, penyumbatan juga bisa terjadi pada vena retinal sentralis (CRVO). Seperti kasus CRAO, penyumbatan pada vena retina sentralis pada umumnya juga terjadi pada satu mata.
CRVO ini merupakan salah satu penyebab penurunan ketajaman penglihatan, terutama pada orang tua dan menjadi penyebab tersering kedua pada penyakit vaskuler retina, setelah retinopati diabetik. Retinopati diabetik merupakan kerusakan retina akibat komplikasi diabetes mellitus.
Prevalensi penderita CRVO antara 1-2% pada setiap orang yang berusia 40 tahun ke atas. Sedang pada penelitian di Amerika Serikat, prevalensi oklusi vena retina cabang lebih banyak dibanding oklusi vena retina sentral, yakni empat kali lebih sering terjadi dibanding CRVO.
Selain faktor usia, oklusi vena retina sering dikaitkan dengan penyakit-penyakit dalam, seperti gangguan vaskular sistemik, di antaranya hipertensi, arteriosklerosis, dan diabetes mellitus.
Menurut dr. Wieke F. Sp.M., M.Kes., penderita CRVO akan mengalami penurunan penglihatan pada salah satu matanya secara tiba-tiba, dan hal itu tergantung tipe ringan atau berat. Tetapi seiring waktu, CRVO bisa juga menyerang mata lainnya.
CRVO berat (iskemik) biasanya selain dihubungkan dengan penglihatan yang buruk, afferent pupillary defect, dan central scotoma yang tebal, juga bisa menyebabkan terjadi perdarahan pada 4 kuadran mata.
Kabur Setengah
Selain CRAO dan CRVO, sumbatan juga bisa terjadi pada percabangan pembuluh darah dari mata, yakni pada arteri (branch retinal artery occlusion) maupun vena (branch retinal artery occlusion).
Menurut dr. Wieke F., Sp.M., M. Kes., kebuntuan pada arteri maupun vena balik ini ditandai dengan gejala-gejala kaburnya penglihatan pada setengah retina secara tiba-tiba. Pada umumnya, gejala itu terjadi pada satu mata saja.
Apabila gejala-gejala tersebut tidak segera mendapat perawatan secara baik, menurut dr. Wieke, maka pasien bisa mengalami perdarahan pada mata yang terkena sumbatan pembuluh darah.
Ia menyarankan, pasien yang mendapat gejala-gejala tersebut sebaiknya segera mendapat perawatan intensif. Apabila tidak, maka sebagian retina bisa mengalami kerusakan.
Menurut dr. Wieke, mereka yang menderita sumbatan pada arteri sentralis, arteri cabang, maupun vena, lebih berisiko terkena penyakit kardiovaskuler, kualitas hidup lebih rendah dibanding pasien tanpa sumbatan. Karena sumbatan yang terjadi pada arteri maupun vena ini merupakan penyakit pembuluh darah, yang bisa terjadi pada pembuluh-pembuluh darah lain di organ tubuh.
Artinya, sumbatan itu bisa terjadi di otak dan menimbulkan stroke atau di jantung yang berakibat pada gagal jantung. Oleh karena itu, dr. Wieke menyarankan kepada pasien yang mengalami sumbatan pada arteri retinal atau vena retinal untuk lebih meningkatkan kualitas hidupnya, agar terhindar dari penyakit-penyakit serupa pada organ vital lainnya, termasuk dengan diet teratur sesuai yang telah ditentukan dan berolahraga. Selain itu, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan mata secara teratur, terutama bila telah berusia di atas 40 tahun.
Adi Wardhono.