MUDAH LUPA WASPADA ALZHEIMER
Alzheimer belum bisa disembuhkan. Namun, laju keparahannya bisa dihambat dengan pengobatan dan gaya hidup sehat.
PIKUN sering dianggap wajar terjadi pada manusia yang beranjak tua. Padahal, pikun bukan bagian dari penuaan, melainkan ciri awal dari suatu penyakit dan gangguan pada otak, antara lain penyakit alzheimer.
Dokter spesialis saraf Yuda Turana menjelaskan alzheimer merupakan penyakit yang menyebabkan gangguan memori dan disfungi otak yang memengaruhi emosi dan kemampuan membuat keputusan. Alzheimer umumnya menyerang orang yang berusia di atas 60 tahun dengan keluhan awal yang khas, yakni sering lupa.
"Gejala biasanya dimulai dari gangguan kognitif, seperti gangguan daya ingat atau lupa. Tapi bukan lupa yang hanya terjadi sekali dua kali seperti saat banyak pikiran karena kerjaan," ujar Yuda pada peluncuran novel Still Alice karya Lisa Genova yang membahas alzheimer, di Jakarta, pekan lalu.
Lupa pada alzheimer awal itu terjadi pada ingatan-ingatan short term. jadi, mudah lupa akan sesuatu hal lalu tiba-tiba mengingatnya kembali. Sayangnya, sering kali yang demikian itu dinggap sebagai bentuk kepikunan yang wajar karena penuaan. "Padahal, kehilangan daya ingat bukan sesutu yang normal dari penuaan," imbuh dokter dari Departemen Neurologi Universitas Atma Jaya Jakarta itu.
Yuda memaparkan ada beberapa gejala alzheimer. Di tahap awal pasien mengalami gangguan daya ingat seperti mengulang ulang pertanyaan, sulit fokus untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, sulit melakukan kegiatan yang familier seperti lupa cara meracik bumbu, mengalami disorientasi waktu dan tempat, dan kesulitan memahami visuospasial.
Pada tahap selanjutnya, lanjut Yuda, para penderita alzheimer biasanya menunjukkan gangguan komunikasi seperti salah menyebut benda, menaruh barang tidak pada tempatnya dan menuduh orang lain yang mengambil, salah dan tidak stabil dalam mengambil keputusan, menarik diri dari pergaulan, perubahan perilaku karena emosi berubah drastis, hingga pada akhirnya penderita alzheimer mengalami gangguan motorik, susah menelan, dan mungkin berakhir di kursi roda.
Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti alzheimer. Namun, diyakini risiko terkena penyakit itu terkait dengan genetik dan gaya hidup. "Peran genetik hanya sepertiga dari faktor risiko penyebab alzheimer. Namun, ketika orang dengan gen alzheimer itu memiliki gaya hidup tidak sehat, akan lebih mudah mengalami penyakit tersebut," jelas Yuda.
Gaya hidup yang dimaksud meliputi pola makan tinggi lemak, kebiasaan merokok, dan malas beraktivitas fisik atau olahraga.
Hambat keparahan
Sampai saat ini alzheimer belum bisa disembuhkan. Namun, upaya deteksi dan pengobatan dini penting dilakukan. Alzheimer bersifat progresif, makin lama makin bertambah parah. Pengobatan diperlukan untuk menghambat laju keparahan itu.
"Karena itulah penting untuk mendeteksi dini alzheimer dan menanganinya dengan benar agar tidak bertambah parah dengan cepat," kata Yuda. Ia berpesan, jika seseorang mendapati gejala seperti yang dijelaskan di atas, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter. Dia menekankan agar kita semua jangan maklum dengan kepikunan dan kejadian sering lupa.
"Pemeriksaan dilakukan bukan pada struktur otak, melainkan pada fungsi otak. Caranya sederhana, dengan instrumen-instrumen kognitif. Seperti, pasien ditanya berulang tentang suatu hal, menggambar sesuatu, kembali lagi ditanya pertanyaan sama lalu dicek berapa persen yang ingat dan tidak. Cek fungsi otak itu dilakukan di dokter saraf dan psikiater," terangnya.
Menurut Yuda, dengan pengobatan yang disertai olahraga rutin, progresivitas penyakit itu menuju tahap akhir dapat ditahan selama delapan hingga 10 tahun, bahkan lebih.
"Kita harus fokus pada pencegahan dan upaya menghambat keparahan. Sebetulnya, agar otak sehat, yang dibutuhkan hanya aktivitas fisik rutin 20-30 menit sehari dan selalu stimulasi otak. Caranya, bersosialisasi, ke luar rumah mengobrol dengan teman, main sudoku, isi teki-teki silang, dan belajar bahasa baru," tutur Yuda.
Pemahaman keluarga
Pada kesempatan sama Executive Director Alzheimer Indonesia DY Suharya menyebutkan saat ini ada sekitar 1,2 juta penduduk Indonesia yang mengidap alzheimer. Ketika ada satu pengidap alzheimer, dampaknya akan dirasakan setidaknya 10 orang lain di sekitarnya, terutama keluarga.
"Orang yang tinggal dengan penderita alzheimer bisa meninggal lebih dulu karena stres," kata Suharya. Suharya yang berpengalaman mengurus ibu kandungnya yang mengidap alzheimer mengatakant tidak mudah menghadapi pasien alzheimer, dari segi mental dan biaya.
"Saat pasien alzheimer, perilakunya sudah berubah karena emosi yang tidak stabil, seperti kasus ibu saya, semua orang bisa dituduh pencuri, pembunuh, selingkuh. Biaya untuk mengurus juga tidak murah, setiap bulan bisa menghabiskan Rp 5 juta - Rp 7 juta untuk biaya care giver, obat, dan terapi," kisah Suharya.
Karena itulah, menurutnya, keluarga harus memahami alzheimer dan penderitanya. "Otak kita sendiri harus selalu sehat dalam menghadapi pengidap alzheimer." (H-3)
fetry@mediaindonesia.com
Catataan: DUKUNGAN KELUARGA, penderita alzheimer kerap kali bersikap emosional dan mengalami perubahan kepribadian ke arah negatif. Keluarga harus memahami dan tetap memberikan dukungan.