Tangani Persoalan Keluarga Hingga Skizofrenia
Awal menjadi psikolog, Tara sempat sedih. Kemampuannya sempat diragukan pasien karena usianya yang masih muda dan minim pengalaman. Namun, kemampuannya memahami persoalan pasien membuatnya kian dikenal.
Tahun 2002, aku dan teman-teman seangkatanku di Psikologi UI meneruskan kuliah di Brisbane, Australia dengan program twinning. Sempat juga aku menangis karena sedih tinggal jauh dari orangtua. He he he. Namun, perasaan itu dengan cepat tergantikan oleh sukacita dan semangat yang membuncah karena merasakan pengalaman baru. Di sana, aku tinggal bertiga bersama kedua sahabatku dalam sebuah apartemen tiga kamar. Hubungan kami sangat dekat, bahkan sampai sekarang.
Tinggal di Brisbane adalah pengalaman paling menyenangkan dalam hidupku karena aku jadi belajar mandiri. Di sisi lain, aku jadi belajar. Sebab, di sana mata kuliah diberikan dalam bahasa Inggris. Kalau tidak tahu, aku jadi harus belajar dua kali lipat. Kebetulan, kedua sahabatku yang tinggal bersamaku juga orangnya "lurus-lurus" saja. Ibadahku jadi lebih rajin. Salat lima waktu dan tarawih tak pernah bolong. Sedihnya, saat Lebaran kami tak bisa pulang karena sedang ujian. Untuk menyenangkan hati, kami mencoba membuat ketupat dan lontong opor sendiri, meski rasanya tak karuan. Ha ha ha. Di antara kedua temanku, aku yang kebagian tugas memasak, sementara yang lain bertugas membersihkan apartemen. Hampir tiap hari aku masak, kecuali saat musim ujian.
Tahun 2005, aku lulus S1 dan pulang ke Indonesia. Gelar sarjana psikolog kudapat dari UI, sedangkan gelar BA kudapat dari Brisbane. Enam bulan setelah lulus S1, aku mengambil S2 di Universitas Indonesia untuk mendalami pendidikan profesi. Dibandingkan jurusan lain pendidikan profesi di psikologi, yaitu klinis anak, industri organisasi, dan pendidikan, jurusan klinis dewasa kurasa paling cocok untukku.
Jadi Tempat Curhat
Klinis dewasa kurasa paling umum dan aku senang menangani masalah yang dialami orang lain. Ditambah lagi, mungkin aku tak sesabar itu kalau menangani pasien anak. Psikologi pendidikan pun bukan minatku. Beruntung, kedua orangtuaku mendukung cita-citaku ini. Oh ya, dulu waktu masih kecil, aku mengidolakan Lady Di. Waktu dia meninggal, saking sedihnya aku sampai tak mau menonton beritanya di teve. Di mataku, dia sosok perempuan yang anggun, cantik, berjiwa sosial tinggi, dan selalu membantu orang. Kepribadian dialah yang membuatku jadi terinspirasi untuk jadi psikolog, di mana aku juga bisa membantu orang lain.
Akhirnya setelah lulus S2, aku jadi psikolog klinis. Mungkin ada benarnya ucapan teman-temanku SMP dan SMA dulu. Mereka bilang, tak heran aku jadi psikolog karena sejak dulu aku sering jadi tempat curhat teman-teman satu geng. Kelak setelah menikah, aku menumpahkan kelu kesah pada suamiku, Ghesang Haeraharja.
Karakter suamiku sangat berbeda dariku. Kalau aku lebih melibatkan feeling dalam menilai sesuatu, suami seratus persen menggunakan logika alias sangat rasional. Namun, itu justru membuatku sering tersadar bahwa berpikir logis juga perlu. Aku jadi bisa melihat masalah dari sudut pandang berbeda. Kalau suamiku juga menggunakan feeling, mungkin kami akan sama-sama "tenggelam".
Kekasih Beri Semangat
Pertengahan tahun 2008 aku lulus S2. Sebelum akhirnya bekerja, aku sempat bimbang. Padahal, saat kuliah dulu, aku sangat bersemangat menimba ilmu karena merasa tak salah pilih. Namun, psikolog klinis tak semudah psikolog bidang lain dalam mendapatkan pekerjaan, ketika baru lulus. Sebab, nama kita tidak dikenal orang lain, sehingga orang tidak tahu bahwa ada kita yang berprofesi psikolog klinis.
Ini berbeda dari psikolog di bidang industri organisasi, misalnya, yang biasanya bekerja di perusahaan. Dengan demikian, mereka langsung mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang jelas. Sementara, psikolog klinis butuh proses untuk mendapatkan klien. Itu sebabnya, banyak mahasiswa psikologi klinis yang setelah lulus justru bekerja di bidang lain. Aku jadi galau karena merasa bersalah tak bisa segera menghasilkan uang setelah lulus. Tentu orangtuaku ingin melihatku segera bekerja dan mendapat pemasukan tetap.
Kuutarakan rencanaku untuk bekerja di perusahaan biasa pada Ghesang. Berpacaran sejak SMA membuatnya mengenal betul siapa aku. Itu sebabnya, Ghesang melarangku. Ia minta aku tetap menjadi psikolog klinis, apa pun yang terjadi. Ia menyemangatiku meski untuk sementara aku belum punya pemasukan. Akhirnya, kuputuskan untuk bertahan. kebetulan, orangtuaku juga mendukung.
Desember 2008, alhamdulillah aku langsung buka praktik di sebuah rumah sakit jiwa dan di sebuah klinik gizi di kawasan Jakarta Selatan. Di rumah sakit jiwa itu, aku aktif menangani pasien rawat inap atau pasien dalam, seperti konseling dan tes bila diperlukan, juga bertemu keluarganya. Sementara, pasien dari luar yang rawat jalan saat itu hanya 1-2 orang per bulan. Layaknya psikolog klinis baru, pasienku masih bisa dihitung dengan jari.
Aku mencoba bersabar. Untuk menambah kegiatan, aku juga aktif bekerja "serabutan" mengambil pekerjaan sana-sini. Misalnya, membantu mengetes berbagai seleksi, antara lain tes karyawan dan sekolah. Apa pun yang bisa kulakukan, kuambil. Butuh proses agar orang mengetahui keberadaanku sebagai psikolog klinis dan mempercayaiku. Maklum, aku kan, masih baru.
Kemampuan Diragukan
Biasanya agak sulit kalau sebelumnya tidak kenal lalu mereka harus menceritakan masalahnya. Apa lagi, ketika melihat usiaku yang masih muda. Biasanya, orang akan menatapku penuh selidik sambil bertanya seperti ini. "Umur berapa? Sudah menikah belum? Sudah punya anak belum? Lulusan mana?" Ha ha ha. Itu jadi pertanyaan sehari-hari pasien padaku.
Mereka menganggapku masih kecil sehingga tidak tahu apa-apa. Atau, ketika aku belum punya anak, ada juga pasienku yang mengatakan. "Kamu belum punya anak, sih, ya. Jadi enggak tahu apa yang saya alami." Belum lagi, mereka terkadang ragu dan bertanya. "Saya harus cerita enggak, ya?" Kalau menurut mereka aku cukup meyakinkan, barulah mereka melanjutkan ke sesi konsultasi. Awalnya, aku merasa sedih karena tidak dipercaya.
Namun lama-kelamaan aku kebal. Toh, yang penting adalah kemampuanku, bukan penampilan. Lama-kelamaan kupikir, aku kan, juga tidak harus merasakan dulu untuk bisa memahami masalah mereka. Justru karena itulah aku belajar psikologi. Alhamdulillah, makin lama makin banyak pasien yang memercayaiku. Mereka mengenalku lewat informasi dari mulut ke mulut.
Namun, pertama kali mendapat pasien rasanya deg-degan banget. Waktu itu aku merasa bahwa dengan kedatangan pasien berarti aku harus bisa membantunya. Jadi, aku merasa harus memberikan saran terbaik. Aku berusaha menganalisa masalah pasien sedetail mungkin dan memberikan solusi sebaik mungkin. Akhirnya, aku jadi tegang bukan main di depan pasien. Padahal, konseling biasanya berlangsung cukup lama 1-1,5 jam. Setelah selesai, rasanya capek banget.
Lama-kelamaan aku tak melakukan itu lagi. Kupikir, kadang-kadang pasien datang hanya ingin sekadar didengarkan. Jadi, aku tidak boleh fokus pada diriku sendiri dan terlalu serius, melainkan fokus pada pasien. Aku harus mengetahui apa mau pasien. Jadi, kupikir tidak harus selalu kuberikan saran yang hebat-hebat, karena belum tentu itu yang mereka inginkan. Lebih baik kuturuti saja tujuan mereka, apa mau mereka, dan kuikuti alur itu.
Rasa Bersalah
Cara ini membuatku dan pasien lebih nyaman dan menyukainya. Mengenai pasien di dalam dengan yang berasal dari luar rumah sakit tentu berbeda cara. Pasien di dalam biasanya gangguannya lebih berat, bahkan akut, karena biasanya mereka sudah dalam perawatan intensif. Awalnya aku agak takut menangani mereka, karena tidak tahu tindakan apa yang akan mereka lakukan di luar dugaan. Terkadang aku dimarahi, dibentak, ditarik-tarik, atau dinasihati. Awalnya, aku berpikir apa salahku sampai dibentak-bentak.
Lama-kelamaan aku jadi menganalisa tindakannya dan jadi ingin tahu latar belakangnya. Aku mencoba untuk berada di posisi dia dan memahami pikirannya. Sementara, dengan pasien dari luar, obrolannya masih lebih nyambung. Banyak suka duka kualami. Antara lain, beberapa pasien ada yang terlalu attached dan menunjukkan perasaan sukanya padaku. Ini biasanya agak berat bagiku karena aku tahu proses terapinya belum selesai tapi tidak bisa dilanjutkan karena sudah tak obyektif lagi.
Jadi, aku harus mundur pelan-pelan dan terkadang itu membuat aku merasa bersalah. Sebab, itu tidak adil buat pasien. Yang berkesan adalah makin sering aku praktik, aku jadi tahu bahwa siapa pun ternyata bisa mengalami masalah, mulai dari yang miskin sampai yang kaya banget, dari yang belum sukses sampai yang sukses, dari remaja sampai orang tua. Namun, tidak semua orang menyadari bahwa dia butuh bantuan untuk menyelesaikan masalahnya.
Nah, sebagai bagian untuk lebih mengenalkan masyarakat pada dunia psikologi, aku dan temanku Ireyna membuat situs webkonseling.blogspot.com pada 2008. Tujuannya, mereka tak lagi melihat psikologi sebagai suatu yang menakutkan. Tak sedikit yang menganggap psikolog itu terkesan tua, penuh nasihat, dan tarifnya mahal. Dengan status itu, kuharap orang jadi lebih gampang konsultasi.
Namun, makin lama makin banyak pengunjung situs itu sehingga aku dan temanku mulai kewalahan menjawabnya ditambah lagi, praktikku makin sibuk. Akhirnya, kasus yang urgent yang kami balas lebih dulu. Dari situs itulah, aku mulai sering dilirik stasiun teve untuk menjadi narasumber di acara mereka. Mungkin dari situlah, aku kemudian diminta Kompas TV untuk menjadi salah satu host 3 in 1 bersama Dentamira Kusuma dan Kamidia Radisti. Sejak itu, makin banyak yang berkonsultasi lewat Facebook dan Twitter.
Kasus Remaja
Belakangan, aku makin gembira melihat banyak remaja SMA atau mahasiswa yang datang ketika mereka menemui masalah, dengan atau tanpa sepengetahuan orangtuanya. Itu artinya, mereka sudah sadar bahwa ketika ada masalah mereka harus segera menyelesaikannya. Kasus yang kutangani mulai dari yang ringan sampai gangguan berat, mulai dari persoalan keluarga, pernikahan, adaptasi, skripsi, pasangan, sampai gangguan akut seperti depresi, bipolar, kecemasan, bahkan skizofrenia.
Di rumah sakit jiwa, aku lebih banyak menemui kasus gangguan mood, seperti bipolar, depresi, skizofrenia, atau paranoid. Sedangkan di klinik yang lebih banyak berkaitan dengan gaya hidup, aku lebih banyak berhubungan dengan pasien yang mengalami gangguan makan, misalnya obesitas, anoreksia, dan bulimia. Ketika mereka datang padaku, biasanya akan terungkap penyebab psikologis yang melatarinya.
Aku sendiri lebih senang menanyain kasus remaja, dan aku memang lebih banyak menangani ini. Sebab, masa remaja merupakan saat yang tepat untuk memiliki konsep diri yang baik, karena gangguan yang terjadi saat dewasa umumnya bermula dari remaja. Mereka memang susah-susah gampang, terutama ketika datang atas kemauan orangtuanya. Membuat mereka mau bercerita saja sangat sulit, karena seringkali mutung, enggak mau ngomong, dan sedikit lebih sulit diberi masukan karena pertahanan dirinya tinggi.
Ini berbeda dari pasien dewasa. Untuk mengatasinya, aku lebih banyak menggunakan cara mengobrol dan berusaha sejajar dengan mereka. Karena aku juga belum terlalu tua, masih bisa nyambung ngobrolnya aku juga selalu mencoba up to date dunia mereka. Misalnya film, musik, dan hobi yang mereka suka sehingga masuknya lebih gampang, meski tidak selalu terjadi pada pertemuan pertama.
Kehidupan pribadiku sendiri syukurlah berjalan lancar dan bahagia. Aku menikahi Ghesang yang berprofesi sebagai auditor pada 2009, 11 tahun setelah kami pacaran Dua tahun kemudian, lahir anak pertama kami, Enzo Navarro Haeraharja, yang kini berusia 19 bulan. Sekarang, aku tengah mengandung anak kedua. Semoga aku bisa menjalani kehamilan ini dengan sehat dan lancar.
Hasuna Daylailatu