Memaafkan Sehatkan Jiwa Raga

ADA ungkapan bijak yang menyatakan mereka yang memendam kemarahan sesungguhnya bagai orang yang sedang meminum racun, tetapi berharap orang yang membuatnya marah yang meninggal. Ungkapan itu menunjukkan bahwasanya kemarahan yang terpendam membahayakan diri sendiri.

Beruntung, tradisi Lebaran dalam merayakan Idul Fitri di Tanah Air sungguh istimewa karena mencakup silaturahim dan maaf-memaafkan. Tradisi ini nyata-nyata tidak hanya bernilai positif  dalam sisi sosial kemasyarakatan, tetapi juga  menyehatkan.   

"Rasa marah, benci, dan dendam dipercaya menjadi bibit banyak gangguan mental seperti depresi, cemas, stres pascatrauma, gangguan psikosomatik, bahkan skizofrenia," ujar dokter spesialis kesehatan jiwa, Elisa Tandiono, di Jakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, sejumlah penelitian menemukan dampak-dampak negatif perasaan marah dan dendam terhadap kesehatan tubuh. Salah satunya penelitian yang dimuat di jurnal American Psychological Society. Para responden dalam penelitian itu diminta memikirkan hal dan orang yang pernah menyakiti hati mereka dan belum dapat mereka maafkan.

Hasilnya terjadi lonjakan pada denyut jantung, tekanan darah, grafik elektromiogram (EMG/tes untuk mengukur aktivitas listrik otot), dan kondisi kulit. Lonjakan itu cenderung menetap lama setelah responden itu berada dalam proses pemulihan atau memikirkan hal lain. 

"Inilah yang disebut psikofisiologis, yaitu keadaan mental yang dapat memengaruhi fungsi-fungsi tubuh terutama susunan saraf pusat, perifer, sampai persarafan organ-organ penting, seperti jantung dan pembuluh darah," ujar Elisa.

Jika dibiarkan berkepanjangan, kata Elisa, kemarahan bisa berujung pada kondisi hipertensi, jantung sering berdebar-debar, sakit kepala, dan nyeri kronis. Dengan latar belakang demikian, tak mengherankan bila saat ini psikiatri termutakhir juga memasukkan unsur memaafkan sebagai bagian penting dalam psikoterapi. Terbukti, banyak  pasien dengan kasus depresi kronis yang tidak membaik dengan bermacam-macam terapi setelah ditelusuri ternyata masih memendam rasa marah dan dendam.

"Memaafkan memang bukan berarti melupakan sebab,  bagaimanapun peristiwa yang menyakitkan tersebut telah  menjadi bagian  dari diri kita," lanjut Elisa.  

Memaafkan, jelas Elisa, artinya kita secara sadar membuat keputusan untuk melepaskan diri dari perasaan negatif dan pikiran membalas dendam, tidak lagi memfokuskan hidup pada peristiwa menyakitkan tersebut, dan pada akhirnya melanjutkan kehidupan dengan rasa lebih bebas dan lebih bahagia. Bahkan, pada tingkat lanjut, memaafkan bisa mengarah ke pengertian, empati, dan mengasihani orang yang kita anggap bersalah.

Ikhlas hati

Secara terpisah, dokter spesialis kesehatan jiwa dari Omni Hospital Alam Sutera Kresno Mulyadi menjelaskan kemampuan untuk minta maaf dan memaafkan merupakan salah satu kriteria kematangan jiwa seseorang. 

Namun, lanjutnya, maaf-memaafkan harus diiringi dengan keiklasan hati agar bisa mendatangkan manfaat bagi kesehatan jiwa dan  raga. (Fat/*/H-3) 

Postingan populer dari blog ini

Aspirin Ampuh Atasi Serangan Jantung

Pendidikan Tinggi dan Gangguan Otak

Kanker Prostat Bahaya Utama Lansia Pria