Masa Depan Orang dengan HIV/AIDS
Pertanyaan M di J: Saya pernah menggunakan narkoba suntikan. Saya berhasil berhenti karena dukungan orangtua dan saudara saya. Saya berjuang keras melawan kecanduan dan akhirnya saat kelas tiga SMU, saya berhasil berhenti total dari narkoba. Saya memusatkan diri dan diterima di universitas negeri. Pada tahun ketiga, saya mengalami demam lama, dan setelah pemeriksaan cukup lengkap, saya didiagnosis HIV dan hepatitis C.
Saya mulai minum obat antiretroviral (ARV) sejak delapan tahun lalu. Saya sekarang sudah bekerja, sudah menikah, dan mempunyai anak umur 3 tahun dan 1 tahun. Menurut dokter, istri dan kedua anak saya tidak tertular HIV ataupun hepatitis C. Saya patuh minum obat ARV dan dan sampai sekarang masih minum obat ARV standar (lini satu). Keadaan saya sekarang baik. Prestasi kerja saya juga saya juga lumayan baik.
Apakah saya sehat terus sampai usia lanjut. Setelah minum obat sekitar 8 tahun, saya tidak mengalami efek samping yang berarti. Fungsi ginjal dan hati saya diperiksa secara teratur dan saya bersyukur hasilnya selalu baik. Kekebalan tubuh (pemeriksaan CD4) sudah hampir 1.000 dan jumlah virus HIV dalam darah saya setiap bulan diperiksa tidak terukur.
Bagaimana pula dengan hepatitis C saya. Jumlah virus hepatitis C saya yang cukup tinggi, hampir 1 juta. Pemeriksaan kepadatan hati (melalui fibroscan hati) adalah derajat dua. Dokter mengatakan, saya boleh menunggu untuk mulai terapi hepatitis C. Saya mendapat informasi, terapi hepatitis C dengan interferon harganya mahal sekitar Rp 120 juta setahun. Biaya pengobatan saya dapat dibayar oleh asuransi, tetapi saya menunggu obat hepatitis C kapsul yang katanya cukup tiga bulan. Beberapa teman saya telah pergi ke India untuk membeli obat solfobuvir tersebut karena obat ini belum ada di negeri kita. Saya sendiri cenderung menunggu obat tersebut di Indonesia. Menurut perkiraan dokter, kapan obat tersebut akan ada di Indonesia? Terima kasih atas penjelasan dokter.
Jawaban DR Samsuridjal Djauzi: Tujuan pengobatan HIV semula adalah jumlah virus HIV (viral load) yang tak terukur. Jika tak ditemukan virus HIV dengan pemeriksaan viral load, berarti obat ARV bekerja dengan baik. Karena itu, semboyan kita dulu adalah temukan, obati (ARV), dan pertahankan agar jumlah virus tak terdeteksi. Dengan keadaan seperti itu, orang yang minum ARV akan dalam keadaan baik, seperti keadaan Anda sekarang. Begitu pula penularan bisa dicegah, istri, dan anak-anak tak tertular.
ODHA yang minum ARV secara teratur usia harapan hidupnya akan menyerupai orang yang tak terinfeksi HIV. Mungkin saja dalam perjalanan pengbatan timbul resistensi obat ARV, tetapi keadaan ini dapat dikenali dan diobati. Karena itu, sekarang sudah mulai timbul kesadaran untuk menatalaksana HIV jangka panjang, mungkin sampai usia lanjut. Pemerintah baru menyediakan obat ARV gratis sejak tahun 2005, tetapi sudah ada beberapa teman ODHA yang menggunakan obat ARV sejak tahun 2000 jadi sudah 15 tahun penggunaan ARV dan keadaan mereka sekarang setahu saya baik. Apa yang perlu diantisipasi ODHA ke depan?
Obat ARV berhasil menekan virus berkembang biak dan memulihkan kembali kekebalan yang turun. Namun, obat ARV belum mampu menghentikan aktivasi imun kronik yang menimbulkan peradangan terus-menerus. Akibat peradangan yang terus menerus ini, risiko berbagai penyakit yang timbul pada usia lanjut pada ODHA terjadi lebih cepat.
Penyakit pada usia lanjut kita ketahui adalah penyakit kronik, seperti penyakit jantung, penurunan fungsi ginjal, stroke, kencing manis, dan kanker. Pada umumnya, risiko ini meningkat setelah orang berusia 60 tahun. Namun, pada ODHA risiko timbulnya lebih cepat, yaitu pada usia 50 tahun.
Pencegahan
Pencegahannya adalah dengan mengamalkan kebiasaan hidup sehat. Makan yang seimbang dan sehat, hindari rokok, alkohol, dan rajin berolahraga. Sementara itu, para peneliti sedang berusaha menemukan obat untuk menekan peradangan kronik pada ODHA. Obat yang sedang diuji coba di antaranya adalah obat simvastatin. Obat ini biasanya digunakan untuk obat penurun kolesterol.
Kepedulian terhadap terapi hepatitis C sebenarnya sudah lama timbul. Sebagian besar mereka yang menyuntik memang tertular hepatitis C di samping HIV. Untuk obat ARV telah berhasil, baik meningkatkan kualitas hidup ODHA maupun dapat menjadikan ODHA hidup produktif kembali. ODHA dapat hidup di tengah masyarakat, berkeluarga, dan memiliki anak seperti orang yang tak tertular HIV.
Namun, pengobatan ARV bersifat jangka panjang. Sebaliknya obat hepatitis C mahal, tetapi waktu pengobatannya tertentu, mulai dari 6 bulan dengan tingkat keberhasilan terapi yang cukup tinggi.
Obat tersebut telah umum digunakan di negara maju, tetapi harganya untuk 3 bulan sekitar 60.000 dollar Amerika Serikat, sekarang berarti hampir Rp 900 juta. Namun, India telah membuat bentuk generik obat ini yang harganya untuk tiga bulan sekitar 1.000 dollar AS saja.
Salah satu cara pengadaan yang cepat adalah dengan skema akses khusus. Artinya, pemerintah mendatangkan obat ini dan mengizinkan penggunaannya, sudah tentu dengan pengawasan Badan POM. Kita amat berharap agar kerja sama Kementerian Kesehatan, Badan POM, profesi kedokteran, dan teman aktivis hepatitis dapat mendatangkan obat ini dalam waktu dekat.