Pentingnya Medical Check Up
Medical check up perlu untuk mengetahui penyakit secara dini.
Medical check up (MCU) adalah pemeriksaan fisik kesehatan dan laboratorium untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang serta mendiagnosis dan mendeteksi dini gejala penyakit yang ditemukan.
Bagi orang sehat, MCU berfungsi mendeteksi penyakit secara dini. "Beberapa jenis penyakit bisa dideteksi secara awal, misalnya diabetes, kolesterol tinggi, jantung, atau kanker," jelas dr. Dedy G Sudrajat, Sp.PD dari Brawijaya Women & Children Hospital, Jakarta.
MCU juga sering dilakukan untuk prerecruitment karyawan, karena beberapa perusahaan mensyaratkan karyawannya tidak memiliki penyakit tertentu yang dikhawatirkan bisa mengganggu produktivitas seperti Hepatitis B.
MCU juga penting bagi mereka yang diketahui sudah mempunyai penyakit yang harus dikontrol. Jadi, selain mengevaluasi penyakit yang sudah diderita, MCU juga dilakukan untuk mengetahui apakah ada penyakit lain yang bisa memperberat penyakit yang sekarang. Misalnya, diabets. Komplikasi bisa ke jantung, otak, pembuluh darah atau ginjal.
Potensi Genetik
Patokan untuk melakukan MCU, antara lain pasien tahu, apakah mereka memiliki faktor potensi genetik suatu penyakit, misalnya diabetes, kanker dan kolesterol. Patokan lain, keluhan yang dirasakan. Misalnya, pasien riwayat nyeri kepala hebat yang tidak sembuh-sembuh. "Minimal ini yang dicek saat MCU, disesuaikan dan lebih fokus. Jangan sampai minta MCU padahal pasien tidak punya potensi genetik dan tidak ada keluhan. Biasanya menjadi mubazir," lanjutnya.
Jenis Pemeriksaan
General MCU biasanya meliputi cek darah lengkap rutin untuk mendeteksi anemia atau kurangnya hemoglobin, karena seringkali tidak terdeteksi secara klinis.
Pemeriksaan sederhana lain saat MCU, misalnya, pemeriksaan fungsi lever dan fungsi ginjal. Selain itu, rontgen thorax untuk mendeteksi kanker paru atau infeksi TB, meski sebetulnya jika tidak ada keluhan, belum ada indikasi untuk rontgen thorax. "Untuk kepetingan MCU, boleh setahun sekali rontgen thorax," kata Dedy.
USG perut untuk mereview kondisi lever atau ginjal. Terkadang ada batu ginjal yang tidak bergejala atau tidak terlalu mengganggu sehingga pasien mengabaikan. Begitu juga batu empedu yang kadang tidak bergejala, meski tidak perlu tindakan lanjut seperti operasi.
Pemeriksaan lain, misalnya, kolesterol, diabetes, dan pemeriksaan mata. Colok dubur juga sering dilakukan saat MCU. "Colok dubur seharusnya dilakukan jika ada indikasi, misalnya ambeien atau curiga adanya tumor di anus atau prostat, bukan pemeriksaan rutin," jelas Dedy.
Prostat bisa dideteksi lewat pemeriksaan USG. USG prostat rutin untuk mendeteksi adanya pembesaran prostat dianjurkan bagi pria usia 50 tahun. Sedangkan pada perempuan pemeriksaan yang dilakukan termasuk pap smear bagi yang sudah aktif secara seksual. Juga, USG untuk mendeteksi kista ovarium atau mioma di uterus.
Indikasi Medis
Berapa kali MCU perlu dilakukan? Sangat relatif. Jika sudah terdeteksi kolesterol tinggi, maka evaluasinya 3-6 bulan sekali harus diulang. Kalau dari hasil sebelumnya terdeteksi kolesterol tinggi, sebaiknya cek sendiri di luar jadwal MCU. Jika pasien merasa tidak ada masalah dengan kesehatannya, boleh saja melakukan MCU setahun sekali. "Ada baiknya pasien datang ke dokter dan berkonsultasi MCU seperti apa yang dibutuhkan. Selain fokus juga agar cost effective," saran Dedy.
Evaluasi Hasil
Untuk beberapa penyakit tertentu, MCU dianjurkan dilakukan sejak dini. Misalnya, pasien punya potensi diabetes. "Nah, usia 20-25 tahun dengan pola hidup sekarang ini bisa dilakukan MCU, apalagi kalau ada keluhan dan faktor risiko. Bagi perempuan MCU bisa mulai dilakukan sejak keluhan menstruasi muncul. Kalau tidak ada keluhan, MCU bisa mulai dilakukan di usia 25-30 tahun untuk mendeteksi potensi penyakit," lanjut Dedy.
Setelah MCU, pasien sebaiknya datang berkonsultasi ke dokter untuk mengevaluasi hasilnya. "Seringkali salah persepsi. Contoh beberapa hasil pemeriksaan diberi tanda bintang karena melewati batas normal. Seringkali pasien sudah khawatir sendiri melihat tanda bintang, padahal selama tidak ada gejala klinis, tidak harus selalu dikhawatirkan."
Hasto Prianggoro